Perubahan dapat membawa kebaikan dan keburukan. Terantung dari sudut pandang siapa yang melihatnya dan siapa yang membawa perubahan tersebut. Yang mengasyikan dari perubahan tersebut adalah efek kejutnya (shock effect). Sesuatu yang selama ini sudah nyaman kita rasakan, tiba-tiba harus berubah begitu saja. Contohnya, di kantor saya. Setiap ada isu rolling Kepala Departemen (Kadept), ramai lah kasak-kusuk siapa orang baru yang akan menempati Departemen tersebut. Para subordinate mulai mencari info. Mencari tahu bagaimana pribadi dan pola kerjanya agar tidak kaget pada perubahan yang akan diusungnya. Bagi yang tidak siap menjadi anak buah si A, bahkan sampai harus meminta kepada Dewan Direksi agar ikut pindah ke departemen lain. “Kenyamanan kerja akan membuat produktifitas meningkat,”begitu dalih mereka.

Saya yang dibesarkan di lingkungan PNS, ternyata mempengaruhi karakter saya dalam dunia kerja. Saya lebih nyaman dengan comfort zone. Tidak suka dengan perubahan yang ekstrim. Bahkan, untuk melamar kerja ke suatu perusahaan, saya sampai harus menelaah laporan keuangan perusahaan yang akan saya tuju. Apakah ia lebih baik atau tidak. Saya lebih suka jadi buntut kucing daripada jadi kepala tikus. Namun, saya menyadari bahwa sifat tersebut tidak bagus bagi masa depan saya. Dan saya bertekad untuk meninggalkan comfort zone itu.

Pagi ini, saya membaca postingan rekan-rekan mengenai tampilan baru Multiply 4.0. Banyak yang kaget, namun tidak sedikit yang agak cuek. Memang tidak seheboh saat Facebook merubah tampilannya atau saat Prita dibebaskan dari penjara. Berhubung saya memakai mobile version (www.multiply.com/m), saya tidak merasakan perubahan itu. Lagi-lagi karena saya terbiasa dengan comfort zone. Bagi rekan-rekan yang sedang dalam tahap penyesuaian dengan tampilan baru, saya ucapkan selamat berjuang. Semoga perubahan itu membawa kita pada kehidupan yang lebih baik (*kayak caleg mau kampanye aja ya hehe..)

Thanks.

Best Rgds,
Deba Pirez
Pria Tampan Yang Masih Merindukan Zona Nyaman

Advertisements