Mau melanjutkan postingannya Neng Metty dengan judul Bias Keberuntungan ah…

DEBA PIREZ
Namanya Deba Pirez. Agak kebarat-baratan?Sepertinya begitu. Pria yang satu ini memang keturunan Spanyol, maksudnya pria yang doyan Spa & minum Es Cendol. Wajahnya cukup tampan. Lebih tampan dari aktor Hollywood Bradd Pritt, namun tidak lebih tampan dari aktor favoritnya, Nicholas Saputra. Rambutnya yang agak ikal mengingatkan kita pada masa kemunculan Nicholas Saputra untuk pertama kalinya di layar kaca melalui film Ayat-ayat Cinta.Namun,lambat laun,rambutnya yang semakin hari semakin gondrong justru mengingatkan kita pada sosok Rhoma Irama dalam film Gitar Tua.

Hari ini adalah hari pertama Deba menginjakan kaki di kelas 3. Kedatangannya yang agak terlambat ke sekolah menyebabkan ia tidak dapat memilih posisi tempat duduk yang ia senangi, yakni pojok kanan dekat jendela. Sebuah tempat yang mampu membuat seorang laki-laki tampan nan jenius tertidur pulas saat hembusan angin menerpanya melalui jendela sekolah yang cukup besar. Ya, ia adalah sebuah keajaiban. Meskipun sering tertidur di kelas, ia merupakan salah satu siswa unggulan di kelas itu. Prestasinya tidak pernah keluar dari tiga besar. Namun, ia tidak pernah sekalipun menempati rangking 1 di kelas. Selalu ada Mila, sang pesohor di sekolah itu, yang menghalangi ambisinya.

Kedatangannya yang agak terlambat justru kali ini berubah jadi anugerah. Meskipun ia duduk di barisan depan, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan 2 tahun sebelumnya, sungguh kali ini ia takkan menolak. Pemandangannya sangat bagus. Lebih indah dibanding Julia Perez saat memakai tanktop. Posisi duduknya tepat di belakang Mila, wanita yang menjadi kompetitor sekaligus idolanya. Ya, Deba & Mila berada satu kelas sejak kelas 1. Keadaannya yang memungkinkan ia untuk mengenal lebih dekat wanita favoritnya terkalahkan oleh ambisi tololnya, baru akan “menembak” Mila kalau ia mampu mengungguli rangking Mila. Dan nasibnya tidak seberuntung wajahnya.Hingga kelas 2 berakhir, Deba tidak pernah mengungguli Mila. Perasaan itu masih terpendam. Terpendam dalam sekali di dalm hatinya yang bersih. Dan di tahun terkahir ia bersekolah disini, ia bertekad untuk mengalahkan Mila. Sekaligus menyatakan perasaannya. “Terima kasih TUHAN untuk memberikan aku kesempatan ketiga kalinya.Kali ini takkan ku sia-siakan,”begitu pekiknya dalam hati penuh kegirangan.

************

Hayuk,siapa yang mau estafet bikin cerita ini?hehe…

Advertisements